Kurasa kura janganlah diam tersembunyi dikau
artikan semua sisik yang meribu bilang
maknai taring yang menjulang tetes
bukankah telah berjalan menyelah rimba di hutan
manusia sangat berubah, perubahanlah manusia
awas jangan awasi jurang lembah begitu dalamnya
telah pandai kau membuat jembatan angin
terbanglah bila itu dibutuhkan kudu
jangan menari lagi di lautan sang pelaut yang tak ber-air
lihat saja depan pelipis berhawa - hawa suci
aroma insan yang taubat karna pembunuhan esok
tak tau kapan esok, tak tau kapan kemarin
semua hampa bila di esok - esokkan
bergegaslah jiwa dan giroh seperti lalu
terbenamlah dikau hampa karna meng-esokkan.
26/02/11
24/02/11
Jum'at Keramat
Titik sembilan berlogak misteri
karatnya harum melati yang sudah lama bersima
paradigma sana kepala kakek menyelah papan
padahal kakek depan meminta sentuhan tangan dan jemari
kusimai kain bersentuhan dalamnya logak
sebagai perkenalan aku dan siapa saja itu
takut jangan takut, berani jangan takut
patokan diri dengan tauhid mengoles jiwa
jangan belok jika lurus, jangan lurus jika sesat
keramatkanlah malam dengan simbol ayat
ayat ikhlas ucap kulhu bermakna satu
aku bukan ditakuti dia, namun dia aku yang genggam
karna aku bukan dia, dan dia bukan iblis
aku yang mempengaruhi, bukan dia yang membaca
dia yang pusaka. dan akulah manusia
bersatulah kau sima ...
berdamping kain kebesaran menyima
sima menyimai hawa, bukan hawa yang harus disimai
sebab semua sirna dan fana
melebur debu ditaburi ayat yang kulani
pergilah kau sima penakut
jangan kau simai lagi kebelokan jati
sungguh aku yang menggenggam kau.
23/02/11
Kenalkan Pusaka
Titipkan ini pusaka
niatnya kalimat belaka
biar enggan atau suka
janganlah melorong neraka
Perkenalkan ini aku
manusia sebatas kuku
darahnya mulai membeku
cecerannya di atas buku
Gulungkanlah dengan kain
syaratkan jangan main - main
nisbatkan hal yang lain
satu raga-pun akan terjalin
17/02/11
Hidup dengan Air
Perjalanan kusam terjang
berharap tak memanjang
kudukan menerbit terang
seperti malam lalu siang.
Tak ada hirauan lagi
haluskan langkah diri
lagi dan lagi seperti jati
maka ini harus dekati ilahi.
Sebilah keris simai raga
tetap ingat siapalah punya
hiraukan apa dan mengapa
agar air girohi hidup di jiwa.
03/02/11
Bagaimana
Bertubi asap merapat
walau terjangnya menelat
namun esensi begitu cepat
benar semua tercipta dzat
Didetik bumi mana
tak kunjung tak mengada
tak tau diri semua beda
namun paham siapa punya
Seperti apa intisari
meniangkan jati diri
tak berdaya seperti mati
bagaimana diri terjadi
01/02/11
Bukan Sayembara
Cerita bumi sudahi cinta
katanya niat ingin tak renta
asing bukan bila buta
pengaruhnya bolai mata
Dua hati bukan sayembara
bukan halnya hukum syara
cerita hilang terbanglah dara
sudahi jalan penuhi cara
Ini saat ingin sudahi
bila sosok raga aura birahi
lelah jiwa bila mendaki
tuk genggam cinta hakiki
Aku dan Mereka Insan
Situa manis baturan samudra
perintah mesra saat raya
kicau perkutut ungkap rasa
pelatuk syair ciptakan nada
Nya'ah tak raga menegas
kokohnya detik sepintas
kabakaba tulisan kertas
ibarat putri menuang beras
Hiji gadis tak pula cukup
nafsu hewani fana tercakup
gerbang sorga-pun tertutup
ibarat dasi pembudak korup
Pula taksaka didekat rumah
pendatang anyar awali tamah
akhir nada ungkapan desah
kain jemur berkunjung basah
Talatah tuah tak menuli
namun manah seperti mati
walau dengar tak peduli
sungguh diri tak tau dari
Langganan:
Komentar (Atom)