Ada seuntai kalimat yang sering terdengar dari telingaku
" yang lalu biarlah berlalu"
itu lalu, biarlah kini ku rangkai masa depan di lembaran baru.
aku terlajar dalam sosok mahasiswa dari Minang sana.
yang menabur inspirasi tuk semua para perangkai.
disiniku terundang dalam hatinya tuk menebak semua isi dalam kata
lagi2 dan lagi sosok dayinta di negeri sana yang menarik hati,
menggugah semangat para senopati dalam kerajaan jiwaku.
membangun tahta dalam kata berkarya cipta.
menstrategikan rancangan dalam misi dan visi cinta.
melatih para prajurit nadi dalam tubuh ini agar bergiroh sejati.
dan selalu menggoreskan pena berwarna kedalam selembaran tak terlihat,
karna hidup yang semakin maju dalam menua jejak.
Terbangunku dalam dekapan malam yang tak menentu.
saluran dalam tabuh mengalir darah yang tertuju pada satu titik.
selubung otak berkata mesra pada titik itu ...
" apakabar cintaku disana" ?
berontaklah raga tuk menggenggam sebuah media jaman kini,
ku dengar nadamu sungguh lelah dan terkesan mesra.
dalam penantian malam ketika mimpi sedang merindunya.
harapan kasih dalam merintis perlahan cerita cinta.
namun sang merpati sudah terlelap dikala menunggu putri kecilnya.
ia lelap dalam gelapan malam yang tak sadarkan dirinya.
mimpikan indah namun tak teringat dalam benaknya.
bersukur saja didalam hidupnya terdapat sosok putri kecil.
ia rindukan malam karna rindukan putri,
ia nantikan cerita karna jalani bersama - sama,
bersama putri manis dalam imajinasinya.
ia coba tuk menjadi nyata karna kasih sayang dari putrinya,
ia ucapkan terimakasih karna terucap pula penyambut dalam cipta hatinya.
semua ini terlihat lengkap. namun ada satu saja yang menguranginya ...
yaitu Pertemuan Cinta ...
Dalam rintisan ceritanya, mereka saling mengisi lubang kecil yang kelami hidup.
masa lalu memang sebuah warna dalam hidup,
seuntai kata lagi - lagi ku dengar ...
masa lalu memang warna, namun apabila gelap apakah itu warna dalam hidup ?
Kini ku jawab dengan santai ...
masa lalu memang sebuah warna dalam hidup,
dan masa lalu yang gelap-pun termasuk warna didalamnya,
ku tambahkan warna pada asumsi kalian ...
masa lalu juga seperti cermin tuk kita pandang,
juga menjadi patokan tuk kita jaga,
ketika kita mengungkapkan warna pada hidup ini ...
maka jadikanlah semua masa seperti lukisan warna,
yang kau lukis untuk masa depan,
lalu lukislah pada lembaranmu saat ini.
karna hidup benar - benar berubah. bahkan dalam hitungan detik.
inspirasimu membuatku terundang dalam karya,
hanyaku titipkan satu kata hati untukmu sang putri ...
" jagalah hatimu dengan baik dan jagalah kesehatanmu"
karena ketika kau terlihat terpuruk lelah,
ku merasa bahwa sebagian dari organ tubuhku ikut merasakannya.
karena kau padaku, dan ku padamu.
kau sungguh bagian dari hidupku saat ini dan semoga selamanya.
ku terima cinta ini disepanjang masa ketika merintis cerita.
cerita cinta kita berdua.
untuk kita berdua.
selamanya ... !!
14/05/11
Perindu Malam
Benar ...
aku bukan burung hantu yang sering melamun
Benar ...
aku bukan kelelawar sipenghisap darah
Juga benar ...
aku bukan pelacur dari tetesan hina yang mencoba sukses
namun ...
akulah perindu malam ...
yang dapat memburu nafsu ketika bertingkah
yang dapat menjadi pena di kertas malam - malammu
yang dapat menjadi selimut ketika kau terlelap
yang dapat hangatkan tubuhmu ketika rembulan redup
yang dapat berkilau ketika bintang sembunyi
dan selalu mampu menjadi warna dinafasmu
juga mampu menjadi warni diragamu
aku tercipta sebagai manusia biasa
bukan seperti raja yang ingin menjadi malaikat
mungkin benar seperti kucing yang mencari makan dimalam hari
ketika ayam berkokok di sekitar rumahku
maka segeralah ku keluar dari peristirahatan
ku tahan laju mentari yang mulai menerbit
lalu ku hisap aroma pagi agar tak datang
hingga ... ku terjatuh mati.
tunggulah saat auman srigala mulai berteriak lagi
itulah Aku yang rindukan malam.
Langganan:
Komentar (Atom)

